Blog "El" (Elfaoz)

Archive for the ‘Becanda’ Category

kelarin-skripsi-biar-cepet-resepsi

skripsi__pasti_bisa_kita_lewati_by_oddzoddy-d5jafcr

Iklan

Islam adalah satu-satunya agama yang memandang bahasa sebagai sarana penting untuk menjaga dan memelihara kemurnian serta keutuhan ajarannya. Karena perangkat utama untuk memahami Al-Qur’an dan as-Sunnah adalah bahasa Arab.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang menegaskan akan hal ini yang di antaranya adalah firman Allah : إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (2) “Dan sungguh kami telah menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar kalian mau berpikir.” (Yusuf : 12)

Namun demikian, para orientalis, missionaris, bahkan tokoh-tokoh muslim liberal yang terus menerus melakukan upaya mengaburkan keyakinan yang sudah tertanam di dalam hati dan jiwa umat Islam akan keyakinan mereka terhadap Al-Qur’an. Di antara mereka ada yang mengklaim bahwa Al-Qur’an sudah terpengaruh berbagai bahasa asing. Jadi, ada mufradat dalam Al-Qur’an yang mengambil istilah-istilah dari Yahudi, Kristen, dan budaya-budaya lain. Analisa yang mereka lakukan kemudian dikemas dalam kajian ilmiah dan menghasilkan kesimpulan bahwa Muhammad Saw meminjam, mengambil, dan mengubah istilah-istilah asing tersebut untuk kemudian disesuaikan dengan kepentingannya. Ada upaya dari mereka untuk mengembalikan makna mufradat Al-Qur’an yang kebetulan sama dengan bahasa lain kepada term ajaran Yahudi dan Kristen. Dan ujung-ujungnya, jika hal itu dita’mini dan diterima, maka akan terbuka jalan bagi mereka untuk melakukan kritik terhadap Al-Qur’an.

Maka kita katakan bahwa bahasa Arab Al-Qur’an adalah bahasa Arab yang baru, karena terkadang mengandung makna yang baru dan berbeda dengan bahasa Arab sebelum Islam. Ada nilai lebih yang tidak dikenal dan tidak dimengerti oleh masyarakat Arab sebelum Islam. Misalnya saja kata-kata ikhwah, rabb, ilah, karim, muruah, dan lain-lain. Kata ikhwah misalnya, sebelum Islam kata-kata ikhwah mengandung makna persaudaraan yang terbentuk karena hubungan darah, kekeluargaan, dan kesombongan kesukuan. Akan tetapi kemudian Al-Qur’an mengangkat makna persaudaraan lain yang dibangun dengan berlandaskan kepada keimanan yang justru lebih tinggi daripada persaudaraan karena ikatan darah.

Jawaban Para Ulama Para ulama sangat besar perhatian dan kecintaan mereka terhadap bahasa Arab. Sejak dari masa sahabat, tabi’in, tabi’ tabi’in sampai para ulama muta’akhkhirin.

Banyak sekali perkataan ulama terkait dengan bahasa Arab Al-Qur’an. Di antaranya adalah ;

1. Penafsiran Ibnu Katsir terhadap firman Allah dalam surat Yusuf ayat 2. Allah l berfirman : إِنَّا أَنزلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (يوسف:2) Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat tersebut beliau mengatakan: Yang demikian itu (bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, paling jelas dan paling luas. Maknanya lebih mengena dan sesuai dengan jiwa manusia.

Karena itulah Allah Swt, menurunkan kitab yang paling mulia (Al-Qur’an) dengan bahasa yang paling mulia, kepada rasul yang paling mulia (Muhammad Saw), melalui perantaraan malaikat yang paling mulia (Jibril). Ditambah lagi kitab ini turun di dataran yang paling mulia di muka bumi (tanah haram) serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (Ramadhan) dan itulah yang menjadikan Al-Qur’an sempurna dari semua sisinya.

2. Dalam banyak atsar disebutkan bahwa orang Arab sendiri dituntut dan ditekankan untuk mengkaji dan mempelajari bahasa Arab karena ia merupakan bahasa dua pedoman dasar umat Islam, yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Di antaranya adalah perkataan sahabat besar Umar bin Khattab ra.

Dalam salah satu riwayat yang menyebutkan bahwa beliau pernah menulis (surat) kepada Abu Musa al-Asy’ari (yang isinya) : وتفقهوا في العربية وأعربوا القرآن، فإنه عربي

“Pelajarilah bahasa Arab dan i’rablah Al-Qur’an karena Al-Qur’an itu bahasa Arab.” (Iqtidha Shirathal Mustaqim, 1:424)

Dalam riwayat yang lain disebutkan ; تعلموا العربية فإنها من دينكم

“Pelajarilah bahasa Arab, karena ia bagian dari agama kalian.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman). Dalam atsar di atas, ada perintah dan dorongan yang kuat dari beliau untuk belajar bahasa Arab sedang perintah itu ditujukan kepada orang Arab. Maka umat Islam yang bukan Arab tentu lebih utama untuk mempelajarinya.

Hal itu terjadi karena adanya kasus pada masa khalifah Umar bin Khattab, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya. Diceritakan bahwa ada seorang Arab Badui yang membaca surat Taubah ayat 3 yang berbunyi ; أَنَّ اللَّهَ بَرِيءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

“Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.”

Akan, tetapi ai Arab badui tersebut membaca kata rasuluhu dengan rasulihi (majrur). Dan hal itu sampai beritanya kepada Umar ra yang kemudian memanggilnya dan menjelaskan kekeliruannya serta memahamkannya. Umar kemudian memerintahkan untuk tidak sembarang orang mengajarkan Al-Qur’an kecuali orang yang alim dalam bahasa Arab. (Tafsir al-Qurthubi:1:24)

Bahkan ada uraian yang cukup tegas yang disandarkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, beliau mengatakan ;

“Sesungguhnya, ketika Allah Swt menurunkan kitab-Nya dengan bahasa Arab, menjadikan rasul-Nya sebagai penyampai risalah al-Kitab dan al-Hikmah dengan bahasa Arab, dan menjadikan generasi awal dien ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab memudahkan umat Islam dalam memahami agama Allah dan dalam menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini serta mendekatkan mereka untuk mengambil teladan generasi pertama Islam dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.”

(Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 1:350) Dalam ungkapan lain beliau menyatakan ; “Bahasa Arab merupakan bahasa umat Islam sekaligus bahasa Al-Qur’an. Oleh karena itu, Al-Qur’an dan Sunnah tidak akan pernah bisa dipahami dengan benar dan sehat kecuali dengan bahasa Arab.” (Iqtidha’ Shirathal Mustaqim, 1:67)

Termasuk juga apa yang diriwayatkan dari Imam Syafi’i rahimahullah, beliau mengatakan : “Di antara point penting dalam ilmu Al-Qur’an adalah bahwa seluruh Kitabullah diturunkan dalam bahasa Arab. Memang ada yang berpendapat bahwa ada serapan bahasa lain selain bahasa Arab di dalam Al-Qur’an, namun hal itu bertentangan dengan keterangan Al-Qur’an sendiri.”

Kalaulah ada pakar bahasa yang mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an ada lafadz selain Arab, sebenarnya bukan demikian keadaaanya. Tapi yang benar adalah adanya sebagian orang Arab yang tidak mengerti adanya lafadz bahasa Arab yang demikian, kemudian dia menganggap bahwa lafadz itu bukan Arab. Padahal bahasa Arab sangatlah banyak lafadz mufradatnya dan teramat luas cakupannya, Maka, tidak berarti kalau ada orang Arab kemudian tidak mengenal satu istilah Arab di dalam al-Qur’an, kemudian dianggap sebagai bukan dari bahasa Arab. Kalau ada lagi yang mengatakan bahwa boleh Al-Qur’an mengandung bahasa lain karena memang diturunkan bukan hanya untuk orang Arab, Asy-Syafi’i menjawab sebaliknya. Justru al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab meskipun untuk semua manusia. Tujuannya agar semua umat manusia belajar bahasa Arab dan bukan Al-Qur’an yang harus berisi berbagai bahasa, tetapi berbagai bangsa itulah yang harus belajar bahasa Arab sebagai bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an. Kenapa Harus Bahasa Arab? Kenapa bahasa Arab menjadi penting? Atau kenapa harus bahasa Arab? Mungkin jawaban yang paling mewakili adalah karena Al-Qur’an dan Sunnah itu berbahasa Arab. Dan tentu, bagaimana bisa memahami keduanya tanpa penguasaan bahasa Arab.

Sudah banyak bahasan para ulama yang tersebar dalam kitab-kitab mereka bahwa bahasa Arab memiliki keunggulan dan kelebihan di atas bahasa-bahasa lain di dunia. Diantaranya bisa dikemukakan di sini, bahwa bahasa Arab Al-Qur’an itu adalah bahasa yang memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan-pesannya karena akan menjadi sumber rujukan syari’ah sepanjang zaman. Tentunya, kata-kata yang dipakai adalah kata-kata pilihan dan kuat sisi kebahasaannya. Bahasa arab adalah bahasa yang indah dan enak ketika diperdengarkan dan dibunyikan sehingga akan menjadi akrab dan selalu dekat dengan manusia. Bahasa Arab pula adalah bahasa yang unik dan sistematis. Selain kaya dalam jenis kelamin kata, bilangan kata, kosa kata, dan sinonimnya, ia juga sangat teliti ketika memberikan gambaran tentang sesuatu. Maka hendaknya kita berhati-hati ketika hendak menjawab ataupun menjelaskan sesuatu, karena jika tidak tepat dalam memilih kata, boleh jadi kita membenarkan sesuatu padahal maksud kita adalah menolaknya.

Seperti contoh dalam Al-Qur’an, Allah berfirman dalam surat Al-A’raf 172 ; أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شهدنا (الأعراف:172)

“Bukankah Aku ini tuhanmu? Mereka menjawab betul.”

Menurut Ibnu Abbas ra, seandainya kata balaa ditukar dengan kata na’am, maka jawaban demikian akan menjadikan kafir, karena kata na’am digunakan untuk membenarkan pertanyaan, baik pertanyaannya dengan redaksi positif ataupun negatif.

Diantara keunggulan bahasa Arab yang lain adalah apa yang disebut dengan i’rab. Bisa dikatakan bahwa i’rab adalah ciri khas bahasa Arab. Begitu pentingnya ilmu yang satu ini sehingga ia dijadikan sebagai sejarah awal peletakan dasar-dasar kaidah ilmu nahwu. Hal itu berangkat dari kekhawatiran Abul Aswad ad-Duali akan adanya pengaruh dari bahasa lain terhadap bahasa Arab sehubungan dengan berkembangnya Islam dan bertambah luasnya daerah kekuasaan Islam.

Terlebih lagi ketika beliau mendapati putrinya mengangkat wajahnya ke langit sambil memandangi keindahan bintang-bintangnya seraya berkata : مَا أَحْسَنَ السَمَاءِ؟

Maksud hati ingin mengungkapkan rasa kekagumannya terhadap langit (Alangkah indahnya langit itu), akan tetapi karena dia menjarkan kata sama’ yang seharusnya difathahkan, maka maknanya akan berubah menjadi sebuah pertanyaan, “Apanya yang indah di langit?”

Termasuk juga bahwa bahasa Arab itu adalah bahasa yang mudah. Sejarah sudah membuktikan bahwa banyak pakar bahasa Arab yang lahir dan muncul padahal mereka bukanlah orang Arab. Sebut saja tokoh bahasa yang amat terkenal Sibawaih. Setiap orang yang mengkaji bahasa Arab mesti akrab dengan nama yang satu ini. Sibawaih ternyata bukan Arab, beliau adalah orang Persia asli. Bahasa dan dialek orang Persia tidaklah sama dengan bahasa Arab dan sangat jauh dari sentuhan Al-Qur’an. Akan tetapi ternyata beliau telah berhasil meletakkan kaidah dasar dalam ilmu nahwu. Ada juga ahli hadits yang kitabnya dinobatkan sebagai kitab yang paling shahih setelah Al-Qur’an yang tak lain ialah Imam Bukhari. Beliau berasal dari Bukhara, Samarkand, Asia Tengah, dan beliau bukan pula orang Arab.

Diujung tulisan ini ada pesan dari Imam Mujahid, beliau berkata, “Tidaklah boleh bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara tentang kitab Allah sementara dia tidak memiliki ilmu bahasa Arab.” (al-Itqan 1:443)

Dan ada pesan dari hadits yang disandarkan kepada Rasulullah Saw : عن بن عباس رضي الله عنهما قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم أحبوا العرب لثلاث لأني عربي والقرآن عربي وكلام أهل الجنة عربي ( الحاكم في المستدرك)

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda: Cintailah bahasa Arab karena tiga hal, yaitu karena aku adalah orang Arab, dan Al-Qur’an dengan bahasa Arab, dan bahasa penghuni syurga adalah bahasa Arab.” (HR Hakim, 16:320/7099) Wallahu a’lam bish shawab.

Source : Here

Elfaoz.com Siapa sih yang tidak tahu Mark Zuckerberg. Yaa! dia adalah penemu sekaligus pembuat Facebook.com salah satu jejaring sosial yang dimiati banyak orang. Saat ini pun ia di nobatkan sebagai pemuda terkaya di dunia. Tapi tahukah anda kenapa si Mark ini menamakan site jejaring sosialnya dengan nama facebook.

Kita memang sering menggunakan facebook. Tapi gak pernah tahu facebook itu berasal dari mana. Kalau mau tahu, begini nih ceritanya.

Seorang filosofis amatiran memulai kisahnya…

Pada suatu hari Mark jalan-jalan ke Bandung. Dia berniat ke ITB tuk studi banding. Tapi sayangnya, ini perjalanannya yang pertama kali ke sana. Otomatis si mark ini bakalan kesasar.

Maklum waktu itu si mark belom sekaya saat ini. Namanya juga masih mahasiswa. Terus, di tengah kebingungannya menuju ITB, akhirnya ia mencoba bertanya-tanya dengan salah seorang tukang es cendol.

Karena stylenya tampang mahasiswa dan terpelajar, si mark pun berlagak kebingungan. Dia basa-basi beli es cendol tuh abang. “Bang, es cendolnya satu dong”.

Nah, sembari menikmati es cendol, si mark pun iseng nanya si abang cendol,”bang tahu gak bang, kalo es cendol abang nih seger dan enak banget.”

S Baca entri selengkapnya »


Tinta Kehidupan

"Dalam Kesakitan teruji kesabaran Dalam perjuangan teruji keimanan Dalam ukhuwah teruji keikhlasan Dalam Kerinduan teruji kesetiaan Sambutlah bila bersahabat Maafkanlah bila terluka Ingatilah bila kesunyian" "Carilah keikhlasan dalam takbirmu, kedamaian dalam rukukmu, ketenangan dlam sujudmu Karena disanalah terkumpul cinta Illahi, cinta yang hakiki"
Oktober 2017
S S R K J S M
« Sep    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

حديث اليوم

إن المؤمن يرى الذّنوب كالجيال ان يقع عليه
و أن الفاجر يرى الذّنرب كالذّباب مرّ على أنفه

Hadis Hari Ini

Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa seperti gunung yang akan menimpanya, Sedangkan orang jahat (berbuat salah) melihat dosa layaknya seekor lalat yang lewat di depan hidungnya (Bukhari)

Sebelum pamit tolong Vote survai di bawah ini. Trims

Follow me on Twitter