Blog "El" (Elfaoz)

Abu Sulaiman al-Darani, nama lengkapnya Abdurrahman bin Ahmad bin Athiyyah, sedangkan Abu Sulaiman adalah kuniyah-nya. Al-Darani dinisbatkan pada kampung Daaraa, perkampungan atau desa di selatan Damaskus, tempat di mana Abu Sulaiman tutup usia dan dikebumikan di sana pada tahun 215 Hijriyah.

Dalam Tazkirah al-Auliya’ dikatakan kalau Abu Sulaiman hidupnya selalu diwarnai dengan keprihatinan, termasuk dalam urusan perut. Abu Sulaiman seringkali merasakan lapar yang begitu sangat, hingga dikatakan tak ada orang sesabar Abu Sulaiman dalam menghadapi lapar.

Selain itu, Abu Sulaiman dikenal juga dengan sifat welas asihnya hingga ia mendapat julukan “Raihaan al-Qulub“, wangi hatinya.

Ada kisah dalam Thabaqat al-Sufiyah, yang mana Abu Sulaiman, mengajarkan pada temannya bagaimana seharusnya seorang hamba beribadah pada Tuhannya. Suatu ketika Abu Sulaiman didatangi Ahmad bin Abi al-Hawari. Ahmad bin Abi al-Hawari lantas bercerita tentang pengalaman salatnya di tempat yang sepi.

“Aku salat di tempat yang sepi, saat itulah kutemui nikmatnya ibadah,” ucap Ahmad bin Abi al-Hawari.

“Kenapa bisa begitu?” tanya Abu Sulaiman.

“Iya, karena saat itu tak ada seorang pun yang melihatku,” timpal Ahmad bin Abi al-Hawari.IKLAN – LANJUTKAN MEMBACA DI BAWAH INI

“Sepertinya ada yang salah pada hatimu, alangkah baiknya, ada atau tidak adanya orang tidak menjadi penghalang engkau menikmati ibadah,” ucap Abu Sulaiman menasehati Ahmad bin Abi al-Hawari.

Pada kisah yang lain dalam kitab Hilyatul Auliya’, Abu Sulaiman pernah mengalami mimpi yang membuatnya untuk senantiasa mengangkat kedua tangan saat berdoa. Begini kisahnya;

Dalam suatu malam yang begitu dingin Abu Sulaiman melakukan ibadah. Dalam keadaan menggigil ia tetap melakukan ibadah. Namun, karena begitu dinginnya sampai-sampai Abu Sulaiman berdoa dengan menyembunyikan salah satu tangannya ke dalam bajunya, sementara tangan yang satunya tetap terangkat sambil terus berdoa. Tetiba Abu Sulaiman tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu ia mendengar bisikan.

“Wahai Abu Sulaiman, kami sudah meletakkan di tangan yang kau angkat sesuatu yang kau minta,” bisik suara dalam mimpi.

“Seandainya kau angkat juga tanganmu yang lain, maka pasti kami akan meletakkan juga di tangan itu sesuatu yang kau minta,” lanjut bisik dalam mimpinya.

Selepas mendengar bisikan itu, Abu Sulaiman bersumpah untuk selalu berdoa dengan mengangkat kedua tangan, bagaimana pun kondisinya, entah itu panas atau dingin.

Berikut ini kata-kata hikmah dari Abu Sulaiman al-Darani;

أَفْضَلُ الأَعْمَالِ خِلاَفُ هَوَى النَّفْسِ

“Afdhalu al-‘A’maali khilafu hawa al-Nafsi.”

“Amal yang paling utama adalah melakukan perlawanan terhadap hawa nafsu (keburukan).”

لِكُلِّ شيئٍ صَدأٌ، وَصَدأُ نُوْرُ القَلْبِ شَبْعُ البَطْنِ

“Likulli syai’in shodaun, wa shodau nuuru-l-qolbi syab’u-l-bathni.”

“Segala sesuatu bisa berkarat atau lapuk, dan berkat/lapuknya hati adalah kenyangnya perut.” Wallahu a’lam.

Telah berpulang ke Rab Semesta Alam Ust Ukar Sukarya pada Rabu 3 Pebruari 2021 / 20 Jumadil Akhir 1442 H pukul 2 dini hari.

Kepergiannya menjadi bukti luasnya pergaulan dan panjangnya dedikasi beliu dalam berdakwah. Kakek adalah seorang yang dianugrahi akhlak yang mengundang simpati banyak orang. Hikmahnya dalam berdakwah, cerdasnya dalam bermuamalah terlihat dari cara beliau dalam berinteraksi dengan manusia. Kakek bukanlah sosok yang sombong dengan kedudukannya, tak pula hina dengan ketawadhuannya. Ia adalah anak yang dewasa di mata ibunya, sosok kakak yang menjadi pelindung adik-adiknya, sosok suami yang sabar dngan perangai manja istrinya, sosok ayah yang dibanggakan anak-anaknya, teladan untuk cucu dan buyutnya, pemimpin yang berwibawa dan panutan yang baik untuk generasi selanjutnya.

Bapa, begitulah kami biasa memanggilnya. Aku beruntung mendapat banyak perhatian darinya. Sebagai cucu yang Ke dua, juga cucu laki-laki pertama, Kakek selalu menyuruhku melantunkan Ayat Al-Qur’an di pengajiannya. menyuruhku berpakaian lengkap sebagaimana yang biasa dia pakai. Ada garis senyum kebanggaan pada wajahnya, saat cucu tampil di depan jemaah. Kakek adalah sosok yang tak pernah melihat cacat pada anak cucunya. Selalu bangga dengan keberadaan kami yang penuh dengan kekurangan. begitu pun saat aku mulai beranjak remaja, Aku masih tetap mengantar kakek ke tempat dia berceramah. Aku menjadi sopir pribadinya hingga habis masa lajangku. Dengan demikian, aku tak menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar banyak tentang cara kakek berbiacara, cara beliau berceramah, cara kakek menyambung silaturahmi. Pun begitu, aku menyadari aku bukanlah dia, dan beliau tidak sepertiku.
Sosoknya selalu hadir dalam ingatanku, betapa tidak, kami selalu menunggu kedatangannya di mesjid untuk memulai Shalat 5 waktu berjamaah. Begitu seterusnya setiap hari. Hingga hari-hari terakhir masa hidupnya, beliau memaksakan untuk Shalat Jum’at. Dan Aku diminta untuk menjemputnya di rumah. Jum’at terakhir, aku duduk bersandar dinding, melihat kakek berbincang bersama Khatib, yang kala itu Ust. Yadi, Tak terlihat sedikit pun wajah pucat. Rasa sakitnya bersembunyi di balik senyum dan tawa kecil. Hingga siapa pun tak bakal menyangka 5 hari setelah itu beliau undur pamit dari dunia untuk selamanya.

Pagi itu, Hari Rabu sekitar pukul dua dini hari Kakek mulai merasakan keadaan yang sangat gawat menimpa dirinya. Entah apa yang beliau rasakan, hingga akhirnya beliau pingsan di pangkuan ibuku. Kegentingan itu pun mengharuskan Kakek untuk dirujuk ke rumah sakit. Tak berselang lama, seluruh keluarga telah berkumpul di pelataran ruang tamu, menunggu kabar baik atas kondisi kakek. Kami hanya bisa menangis, meski kami tak paham apa yang sebenarnya terjadi. Hingga tak lama kami menunggu, sebuah mobil datang. Namun, itu bukan mobil yang kami gunakan untuk mengantar Kakek. Itu adalah Ambulan. Derai air mata pun tak tertahankan lagi saat ambulan datang. Kami berpelukan. Benar saja. Kakek terbujur kaku di atas pembaringan. Ia sama sekali tak menghiraukan keberadaan kami. Matanya terpejam, nafasnya menghilang. Kakek telah pergi untuk selamanya. meninggalkan kami yang masih merindukan sosoknya.

Kami pun dengan segera memandikan dan mengkafaninya. Sehelai kain batik yang menyelimutinya disambut dengan sebuah azan shubuh yang terdengar syahdu. Ya Allah, kami kembalikan kakek ke pangkuanmu.

Derai air mata pun tak tertahan lagi saat Imam memimpin shalat berjamaah. Kini kami tak bisa lagi berdiri di belakangnya mengikuti setiap gerakan shalatnya. Sosok yang ditunggu setiap shalat berjamaah kini telah pergi. Kini saatnya beliau beristirahat dari segala keletihan dunia.

Ya Allah kami mencintai beliau. Ya Allah terima kasih engkau telah menganugerahkan kepadaku sosok Kakek yang begitu luar biasa. Ya Allah jadikanlah alam yang saat ini beliau jalani sebagai tempat beristirahat untuknya sampai datang hari kebangkitan. Ya Allah pertemukanaku dengan kakeku dalam keadaan selamat di akhirat kelak.

Beberapa hal yang saya pelajari di tahu 2020

  1. Mewakafkan diri untuk agama Allah
  2. Membersihkan harta dari riba dan hutang
  3. Memperbaiki hubungan dengan manusia dengan membahagiakan mereka dan bersabar dengan sikap mereka
  4. Belajar hidup Minimalis
  5. Berakhlak dengan akhlak mulia
  6. Bersedekah pada pagi hari
  7. Menghilangkan prasangka buruk kepada manusia
  8. Menjadikan setiap kesalahan yang dilakukan adalah kesalahan yang terakhir yang tidak boleh terulang kembali dan menyingkirkan sebab-sebab terjadinya kesalahan

Tinta Kehidupan

"Dalam Kesakitan teruji kesabaran Dalam perjuangan teruji keimanan Dalam ukhuwah teruji keikhlasan Dalam Kerinduan teruji kesetiaan Sambutlah bila bersahabat Maafkanlah bila terluka Ingatilah bila kesunyian" "Carilah keikhlasan dalam takbirmu, kedamaian dalam rukukmu, ketenangan dlam sujudmu Karena disanalah terkumpul cinta Illahi, cinta yang hakiki"
Februari 2021
S S R K J S M
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728

حديث اليوم

إن المؤمن يرى الذّنوب كالجيال ان يقع عليه
و أن الفاجر يرى الذّنرب كالذّباب مرّ على أنفه

Hadis Hari Ini

Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa seperti gunung yang akan menimpanya, Sedangkan orang jahat (berbuat salah) melihat dosa layaknya seekor lalat yang lewat di depan hidungnya (Bukhari)

Sebelum pamit tolong Vote survai di bawah ini. Trims

Follow me on Twitter