Blog "El" (Elfaoz)

Masbuk Berjamaáh

Posted on: April 5, 2011

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: تَخَلَّفَ رَسُولُ اللهِ r وَتَخَلَّفْتُ مَعَهُ … ثُمَّ رَكِبَ وَرَكِبْتُ فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَوْمِ وَقَدْ قَامُوا فِي الصَّلاَةِ يُصَلِّي بِهِمْ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَقَدْ رَكَعَ بِهِمْ رَكْعَةً فَلَمَّا أَحَسَّ بِالنَّبِيِّ r ذَهَبَ يَتَأَخَّرُ فَأَوْمَأَ إِلَيْهِ فَصَلَّى بِهِمْ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ النَّبِيُّ r وَقُمْتُ فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا – رواه مسلم –

Dari Al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata, “Rasulullah saw. ketinggalan rombongan demikian juga aku…kemudian beliau menaiki kendaraannya dan aku pun berkendaraan bersamanya. Maka kami sampai kepada kaum (rombongan itu), ternyata mereka telah sedang melaksanakan salat dan Abdurrahman bin Auf yang mengimami mereka, mereka telah salat satu rakaat. Tatkala Abdurrahman bin Auf merasa bahwa Nabi datang, ia berusaha untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abdurrahman bin Auf tetap pada tempatnya mengimami mereka. Tatkala Abdurrahman bin Auf (bersama jama’ah) melakukan salam (selesai dari salatnya), Nabi saw. berdiri dan aku pun berdiri, lalu kami dengan berjamaah melaksanakan rakaat salat yang ketinggalan itu. “ H.r. Muslim I : 141

Dari Dhomir yang terdapat pada hadis itu yaitu :

ثُمَّ رَكِبَ وَرَكِبْتُ

fa rakiba wa rakibtu (maka beliau naik kendaraan dan aku pun naik kendaraan). Hal ini menunjukkan masing-masing dengan kendaraan berbeda.

فَانْتَهَيْنَا

fantahainaa (maka kami sampai). Hal ini menunjukkan sama-sama sampai di tempat yang sama.

قَامَ النَّبِيُّ r وَقُمْتُ

Qa-man nabiyyu saw. wa qumtu (Nabi berdiri dan aku pun berdiri)

Itu menunjukkan Al-Mugirah bangkit mengikuti bangkitnya Nabi saw.

Adapun kata-kata:

فَرَكَعْنَا الرَّكْعَةَ الَّتِي سَبَقَتْنَا

Fa raka’nar rak’atal latii sabaqatnaa (Lalu kami mengerjakan rakaat yang kami ketinggalan). Menunjukkan mengerjakan rakaat yang ketinggalan (masbuk) secara bersama-sama alias berjamaah.

Arti ini sungguh merupakan pelaksanaan berjamaahnya Rasulullah saw. bersama Al-Mugirah yang sama-sama masbuk. Dan sekaligus merupakan pelaksanaan dari dalil-dalil umum yang disabdakan oleh Rasulullah saw. sendiri tentang keutamaan berjamaah dari pada munfarid.

Dan perlu diketahui bahwa sesungguhnya hadis peristiwa masbuknya Nabi saw. bersama Al-Mugirah itu bukan bukti adanya salat berjamaah bagi yang masbuk, karena sudah cukup dengan hadis yang umum tentang keutamaan berjamaah yang mencakup yang masbuk dan yang bukan masbuk untuk mendapatkan keutamaan salat wajib. Di dalam hadis diterangkan sebagai beriku:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ r : صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ عَلَى صَلاَةِ الفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً . – متفق عليه –

Dari Ibnu Umar, ia berkata,”Rasululah saw. telah bersabda, ’Salat berjama’ah mengungguli (lebih utama) salat munfarid dua puluh tujuh derajat.H.r. Mutafaqun alaih

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: أَنَّ النَّبِيَّ r قَالَ : صَلاَةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيْدُ عَلَى صَلاَتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلاَتِهِ فِي سُوْقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً . – متفق عليه –

Dari Abu Huraerah, ia mengatakan, ”Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda,’Salat seseorang di dalam berjamah bertambah di atas salat dirumahnya serta salat dipasarnya dua puluh lebih derajat”.H.r.Mutafaqun alaih

Selama tidak ada pengecualian, maka berlaku berjamaah bagi yang masbuk dan tidak masbuk. Oleh karena itu berjamaahnya Rasulullah saw. dengan Al-Mugirah hanya merupakan salah satu dari pelaksanaan berjamaah yang lebih utama itu. Di dalam kaidah ushul fiqh dikatakan:

ذِكْرُ أَفْرَادِ العَامِ لاَ يُخَصِّصُهُ

Menyebut satuan-satuan yang terkakup di dalam (dalil) umum tidak mengkhususkannya.

Dengan demikian bila kita menyatakan tidak boleh berjamaah di antara makmum yang masbuk, wajib menunjukkan dalil khusus untuk mengecualikannya. Tetapi pada kenyataannya praktek Rasulullah saw. berjamaah mengimami Almugirah bin Syu’bah-lah yang didapatkan.

Kesimpulan :

Salat berjamaah dengan keutamaan 27 derajat daripada salat munfarid, berlaku bagi yang masbuk dan tidak masbuk.

Iklan

2 Tanggapan to "Masbuk Berjamaáh"

kemudian bagaimana sikap kita, ketika bersamaan masbuk dengan orang yang meyakini bahwa masbuk tidak boleh ikut berjamaah, hal itu sering saya alami…

Maaf mungkin ini ada sedikit penjelasan ttg yang anda maksud….

Semoga menjadi berguna adanya….

Pertanyaan:
Assalamualaikum wr. wb.

Ustadz saya masih bingung, dalam tanya jawab syariahonline pernah dinyatakan bahwa tidak ada dalilnya sesama masbuq sholat berjamaah. Akan tetapi saya pernah baca bahwa
Rasulullah pernah masbuq bersama shabat, lalu mereka menyelesaikannya/menyempurnakan kekurangan rakaatnya dengan cara berjamaah. Adapaun haditsnya sebagai berikut:

Dari al-Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: “Rasulullah saw. ketinggalan rombongan demikian juga aku … kemudian beliau menaiki kendaraanya dan aku pun berkendaraan bersamanya. Maka kami sampai kepada kaum (rombongan itu),ternyata mereka sedang melaksanakn shalat dan Abdurrahman bin Auf yang mengimami mereka, mereka telah salat satu rakaat. Tatkala Abdurrahman bin Auf merasa bahwa Nabi dating, ia berusaha untuk mundur, tetapi Nabi berisyarat agar Abdurrahman bin Auf tetap pada tempatnya mengimami mereka. Tatkala Abdurrahman bin Auf (bersama jamaah) melakukan salam (selesai dari shalatnya), Nabi saw. berdiri dan aku pun berdiri, lalu kami berjamaah melaksanakan rakaat shalat yang ketinggalan” (HR Imam Muslim)

Mohon penjelasan dari ustadz. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Lutfi Syarif Ahmad

Jawaban:

wa’alaikumsalam wr.wb

segala puja dan syukur hanya kepada Allah Swt dan salawat salam untuk RasulNya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. waba’du:

arti hadits yang disebutkan penanya, tidak kami anggap sebagai hadits yang menunjukkan tentang hukum shalat masbuq yang kemudian menjadi jama’ah dengan mengangkat salah satu menjadi imam, yang memang kebetulan yang masbuq adalah banyak. sehingga kami mengatakan tidak ada dalil secara pasti tentang hal itu.

Berikut adalah hadits yang dijadikan sandaran bahwa dalam shalat masbuq yang kebetulan jumlahnya banyak, boleh membuat formasi/menjadi shalat berjama’ah. Hadist ini terdapat dalam kitab shahih muslim, jilid dua bab ”al-mashu ’ala an-Nashiyah (mengusab rambut bagian atas ketika wudhlu’), begitu juga terdapat dalam bab ”taqdimu al-jama’ah man yushalli” (mendahulukan jama’ah bagi orang yang sudah shalat) dengan redaksi yang sedikit berbeda. Namun dalam hadits ini, sejauh pemahaman kami tidak ada redaksi yang menunjukkan secara pasti bahwa Rasulullah Saw dengan Muqhirah bin syu’bah shalat secara berjama’ah ketika menyempurnakan raka’at yang tertinggal.

Berikut adalah haditsnya:

bahwasannya Muqhirah bin Syu’bah menceritakan, bahwa dia berperang bersama Rasulullah Saw diperang Tabuk. Mughirah berkata; Rasulullah hendak membuang hajat, kemudia mencari tempat yang tertutup, maka aku bawakan satu ember air sebelum shalat subuh, ketika beliau kembali, aku tuangkan air dari ember itu ketangannya, beliau membasuh tiga kali, kemudian membasuh wajahnya, kemudian menyingsingkan jubahnya untuk mengeluarkan lengannya, akan tetapi lengan jubah itu sempet, maka Rasulullah memasukan tangannya kedalam jubahnya dan mengeluarkannya dari bawah jubah, maka beliau membasuh kedua tangannya sampai kedua sikunya, kemudian beliau berwudlu di atas khuf (maksudnya tidak membasuh kaki, tapi beliau cukup mengusap bagian atas khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit), kemudian beliau bergegas (menyusul rombongan), Mughirah berkata: akupun bergegas bersama beliau, maka kami mendapati romobongan (para sahabat) sedang shalat shalat, dan Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam mereka, dan sudah masuk rakaat terakhir. Maka ketika Abdurrahman bin Auf salam dan selesai shalat, Rasulullah menyempurnakan shalatnya, maka hal itu membuat kaum muslimin keheranan (Rasulullah menjadi ma’mum), merekapun memperbanyak tasbih, maka ketika Rasulullah selesai shalat, beliau menghadap kepada para sahabat dan berkata: ahsantum (kalian telah berbuat benar), Mughirah berkata: atau beliau waktu itu mengatakan: kalian benar, dimana mengajak manusia untuk shalat tepat pada waktunya.

Dari hadits di atas tidak ada keterangan yang menjelaskan bahwa Rasulullah menyempurnakan shalat yang ketinggalan bersama mughirah dengan jama’ah.

Dalam riwayat lain dengan redaksi yang sedikit berbeda, namun pada kasus yang sama: Dari muqhirah bin syu’bah dari ayahnya dia berkata:
Rasulullah tertinggal (dari rombongan pasukan) dan aku tertinggal bersama beliau, ketika beliau selesai dari hajatnya, beliau bertanya apakah kamu ada air? Maka aku bawakan ember (tempat bersuci), kemudian membasuh kedua telapak tanganya, wajahnya dan menyingkap lengannya, namun lengan jubahnya terlalu sempit, maka beliau mengeluarkan tangannya dari bahwa jubah, dan meletakkan jubahnya di atas bahunya, kemudian beliau membasuh kedua lengannya dan mengusap ubun-ubunnya, dan bagian atas surbannya serta kedua khufnya (semacam kaos kaki dari kulit), kemudian beliau naik (kendaraan) dan akupun naik, ketika kami sampai pada rombongan kaum (para sahabat), mereka sedang shalat yang diimami oleh Abdurrahman bin Auf, dan sudah selesai satu rakaat, ketika (Abdurrahman bin Auf) menyadari kedatangan Rasulullah, dia mundur, maka Rasulullah memberi isyarat kepadanya, maka (Abdurrahman bin Auf) meneruskan tetap mengimami shalat mereka, maka ketika Abdurrahman bin Auf salam (selesai shalat), Rasulullah berdiri, dan aku berdiri, kami ruku’ (menyempurnakan) rakaat yang tertinggal.

Itulah nash hadits secara lengkap, yang bisa dibaca bersama bahwa dalam hadits tersebut tidak ada penggalan satu lafadzpun yang mengatakan Rasulullah bersama Mughirah berjama’ah ketika menyempurnakan rakaat yang tertinggal.

Mungkin lafadz “ركعنا / kami ruku’ (menyempurnakan rakaat yang tertinggal)”, itu yang difahami bahwa Rasulullah Saw dalam menyempurnakan rakaat yang tertinggal dilakukan dengan berjama’ah bersama Mughirah. Sehingga dalam terjemahannya diterjemahkan berjama’ah. Padahal itu adalah keterangan Mughirah tentang Rasulullah menyempurnakan rakaat yang tertinggal, dan begitu juga keterangan tentang dirinya sendiri (Mughirah). Sekali lagi tidak ada dalam hadits tersebut lafadz yang menunjukkan kami lakukan dengan berjama’ah. Hal itu dikuatkan dengan hadits yang sebelumnya, dimana Mughirah hanya menerangkan bahwa Rasulullah kemudian menyempurnakan shalatnya, tanpa menerangkan dirinya sendiri, sehingga tidak menggunakan lafadz ”kami”.

Selain itu bahwa hadits ini diletakkan dalam bab masalah bagaimana wudlu’ Rasulullah Saw. artinya hukum yang diambil dari hadits ini adalah lebih kepada tentang teknis bagaimana wudhlu Rasulullah dan juga shalat pada waktunya. Bukan masalah shalat masbuq yang kemudian membentuk formasi atau menjadi jama’ah.

Jika ditinjau dari segi hukum fikih, bahwa orang masbuq mempunyai setatus (nilai) jama’ah dengan jama’ah yang utama yang telah selesai itu, jadi tidak perlu lagi membuat jama’ah baru bersama-sama dengan sesama masbuq. Wallahu a’lam.

wassalam

Sumber:
bmh.or.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Tinta Kehidupan

"Dalam Kesakitan teruji kesabaran Dalam perjuangan teruji keimanan Dalam ukhuwah teruji keikhlasan Dalam Kerinduan teruji kesetiaan Sambutlah bila bersahabat Maafkanlah bila terluka Ingatilah bila kesunyian" "Carilah keikhlasan dalam takbirmu, kedamaian dalam rukukmu, ketenangan dlam sujudmu Karena disanalah terkumpul cinta Illahi, cinta yang hakiki"
April 2011
S S R K J S M
« Agu   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

حديث اليوم

إن المؤمن يرى الذّنوب كالجيال ان يقع عليه
و أن الفاجر يرى الذّنرب كالذّباب مرّ على أنفه

Hadis Hari Ini

Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa seperti gunung yang akan menimpanya, Sedangkan orang jahat (berbuat salah) melihat dosa layaknya seekor lalat yang lewat di depan hidungnya (Bukhari)

Sebelum pamit tolong Vote survai di bawah ini. Trims

Follow me on Twitter

Iklan
%d blogger menyukai ini: